Dari Daging Buah Pala, UMKM Ternate Hadirkan Produk Pangan Bernilai Tambah
TERNATE – Daging buah pala yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal ternyata menyimpan peluang usaha yang menjanjikan. Di tangan pelaku UMKM, komoditas khas Maluku Utara ini diolah menjadi beragam produk pangan, mulai dari minuman sari buah pala, sirup, manisan, hingga selai.
Potensi tersebut terlihat dari kiprah Ummi Habibie Home Industry di Ternate yang dikelola Seha Hamid Fad’AQ. Pengalaman usaha ini menjadi salah satu hal yang digali dalam kunjungan dan diskusi pada Minggu (25/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Nilai Tambah Pala dan Cengkeh di Tidore Kepulauan dan Halmahera Selatan.
Dalam diskusi tersebut, Seha berbagi pengalaman mengembangkan daging buah pala menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Baginya, pengolahan tidak hanya membuka peluang usaha, tetapi juga menjadi cara untuk mengoptimalkan pemanfaatan komoditas lokal.
Dari sisi produksi, Ummi Habibie Home Industry memperoleh bahan baku pala dengan harga Rp60.000 per karung. Setelah melalui proses sortasi dan pembersihan, satu karung bahan baku menghasilkan sekitar 30 kilogram bahan siap olah. Bahan tersebut menjadi salah satu sumber produksi minuman sari buah pala dalam kemasan botol berukuran 250 mililiter.
Dalam sebulan, usaha ini mampu memproduksi sekitar 1.000 botol minuman sari pala dengan dukungan satu orang tenaga kerja. Setiap botol dipasarkan dengan harga Rp9.000. Skala produksi tersebut menunjukkan bahwa pengolahan daging buah pala dapat menjadi kegiatan usaha produktif yang memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang kerja.
Peluang pasar juga terus dijajaki melalui sistem titip jual di gerai ritel. Penjualan produk manisan pala melalui Hypermart dilaporkan mencapai sekitar 50 botol per minggu, sedangkan melalui jaringan Indomaret dan Alfamart sekitar empat botol per minggu. Produksi pun dapat ditingkatkan ketika ada pesanan khusus atau permintaan untuk kegiatan pameran yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Meski demikian, perjalanan mengembangkan usaha olahan pala bukan tanpa tantangan. Ketersediaan bahan baku yang belum berkesinambungan, pemenuhan standar mutu, serta pengurusan perizinan dan pengujian keamanan pangan masih menjadi pekerjaan yang perlu mendapat perhatian.
Seha menjelaskan bahwa pembuatan minuman sari buah pala telah mengikuti standar operasional prosedur (SOP) untuk menjaga konsistensi kualitas produk. Berdasarkan pengujian organoleptik yang dilakukan secara mandiri, produk tersebut diperkirakan dapat bertahan hingga enam bulan jika disimpan dalam kondisi dingin atau di lemari pendingin. Namun, kepastian masa simpan tetap memerlukan pengujian yang sesuai untuk memastikan keamanan dan mutu produk.
Pengalaman Ummi Habibie Home Industry memperlihatkan bahwa kreativitas mengolah hasil pertanian merupakan langkah awal dalam membangun usaha bernilai tambah. Agar dapat berkembang lebih jauh, kreativitas tersebut perlu didukung oleh ketersediaan bahan baku, proses produksi yang terstandar, pemenuhan persyaratan keamanan pangan, serta strategi pemasaran yang berkelanjutan.
Melalui Bimtek Peningkatan Nilai Tambah Pala dan Cengkeh, pelaku UMKM diharapkan dapat menggali lebih banyak peluang pengolahan komoditas unggulan daerah. Dengan inovasi yang tepat dan dukungan pengembangan usaha, pala tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga dapat hadir sebagai produk olahan yang memiliki daya saing dan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pada akhirnya, optimalisasi potensi daging buah pala menjadi peluang untuk memperluas usaha masyarakat, meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, dan memperkuat ekonomi lokal di Maluku Utara.